Ahli: Robot tak akan gantikan peran dokter dan perawat

Ahli: Robot tak akan gantikan peran dokter dan perawat
Ilustrasi. (Photo by Online Marketing on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Seiring dengan lompatan-lompatan teknologi yang semakin tinggi dari waktu ke waktu, pertanyaan bahwa apakah robot akan mengambil alih seluruh pekerjaan, termasuk di dunia perawatan kesehatan, yang kini masih ditangani oleh manusia selalu muncul.

Sejumlah pakar kesehatan pada panel diskusi World Economic Forum di Dubai, Uni Emirat Arab pada Kamis (23/1) menjawab bahwa setinggi-tingginya teknologi dalam industri perawatan kesehatan tidak boleh menggantikan peran dokter dan perawat yang memberikan perawatan primer kepada pasien.

Laporan dari Arab News yang dikutip di Jakarta, Jumat, menyebutkan bahwa para panelis yang membahas peran kecerdasan buatan (AI/ artificial intelligence) dan robotika dalam bidang medis tersebut menyatakan bahwa semua perawatan harus tetap fokus pada kebutuhan pasien.

Mereka menekankan bahwa “robot tidak dapat menggantikan dokter.”

Tetapi Leif Johansson, ketua dewan di perusahaan farmasi, AstraZeneca AB, mengatakan teknologi itu akan sangat penting untuk “program screening dan memperluas akses ke perawatan.”

“Satu-satunya cara untuk mendukung pusat perawatan primer dengan orang-orang berketerampilan rendah, untuk keperluan screening, adalah dengan AI, robotika,” jelasnya, mengutip India sebagai contoh negara yang kekurangan dokter berkualifikasi untuk menangani populasi besar.

Sementara teknologi menghadirkan manfaat potensial bagi industri, Lisa Sanders, Associate Professor di Yale Medical School, mengatakan dia khawatir teknologi saat ini menghadapi “penghalang dalam input data.”

“Bagaimana AI atau robot akan mendapatkan data yang mereka butuhkan dari pasien?” kata Sanders, dokter yang menjadi inspirasi di balik acara TV Amerika Serikat yang terkenal “House”.

Dia mempertanyakan bagaimana teknologi dapat menilai pasien ketika mereka berada dalam keadaan yang rumot dan merasa bingung.

Jodi Halpern, seorang profesor bioetika, sependapat dengan Sanders dengan menyoroti apa yang dia gambarkan sebagai tiga situasi penting ketika “hubungan dengan dokter manusia yang sebenarnya membuat perbedaan dalam perawatan kesehatan yang efektif.”

Salah satunya adalah saat dokter menanyakan riwayat medis dari pasien. Halpern mengatakan, sebagian besar pasien hanya akan mengungkapkan informasi pribadi saat mereka merasakan empati dari dokter.

“Jika kita tidak mendapatkan riwayat yang baik, kita tidak akan mendapatkan perawatan yang baik,” tambahnya.

Hal lain yang berkaitan dengan hubungan dengan dokter manusia adalah memastikan pasien minum obat, dan membantu orang lain menghadapi berita buruk.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here