Ahli: Perang dingin AS-China tak mungkin terjadi, persaingan tak terhindarkan

Ahli: Perang dingin AS-China tak mungkin terjadi, persaingan tak terhindarkan

Jakarta (Indonesia Window) – Perang dingin baru antara Amerika Serikat dan China yang mirip dengan AS dan Uni Soviet pada abad ke-20 tidak mungkin terjadi, namun persaingan tidak dapat dihindari, kata ahli sinologi (ilmu tentang budaya dan politik China), Wang Gungwu, baru-baru ini.

AS dapat tergoda untuk mengikuti strategi abad ke-20 yang sama guna melawan China, tapi akan menyadari bahwa dunia telah berubah, yang mengarah ke pendekatan baru selain perang dingin, tutur Wang yang berusia 91 tahun memperkirakan dalam sebuah wawancara dengan Kantor Berita CNA.

Sejarawan, sinolog, dan penulis Singapura kelahiran Indonesia ini dinobatkan sebagai peraih Tang Prize 2020 dalam bidang Sinologi pada Juni 2020 atas penelitiannya tentang tatanan dunia Tionghoa, Tionghoa perantauan, dan pengalaman migrasi Tionghoa.

Namun, karena pandemik COVID-19, upacara pemberian Penghargaan Tang tidak diadakan hingga hari Sabtu pekan ini.

Ketika ditanya tentang keadaan hubungan AS-China dan potensi dampaknya terhadap tatanan global, Wang mengatakan pemerintahan Joe Biden telah memutuskan untuk mencari aliansi yang serupa dengan yang digunakan untuk mengalahkan Uni Soviet dalam Perang Dingin.

“Formula lama” itu berhasil di masa lalu, tetapi “ini seperti ‘anggur lama dalam botol baru’,” kata Wang, merujuk China sebagai botol baru dan strategi Perang Dingin sebagai anggur lama.

“Godaan untuk menggunakan strategi guna mengalahkan China sangat kuat. Jika godaan itu diikuti, Anda bisa memiliki situasi perang dingin,” imbuhnya.

Tampaknya ada “keraguan dari Gedung Putih untuk memperkuat kebijakan ini” dan melangkah terlalu jauh dengan metode lama, sebagian karena perbedaan China dari Uni Soviet, terutama dalam hal ekonomi, katanya.

AS perlu memikirkan cara yang berbeda untuk mendekati China karena itu adalah jenis kekuatan yang berbeda, pendekatan yang “lebih kooperatif, kompetitif dengan segala cara tetapi menghindari menjadi musuh, menghindari menjadikan China sebagai musuh,” terang Wang.

Mungkin tidak ada perang dingin, tetapi “akan ada persaingan, (dan) persaingan tidak dapat dihindari.”

‘Mimpi China’

Apa dan bagaimana strategi AS terhadap China akan mempengaruhi tatanan global sulit untuk dikatakan saat ini, tutur Wang.

“Yang jelas adalah bahwa Barat, yang dipimpin oleh AS, ingin mempertahankan tatanan saat ini sebagaimana adanya, mempertahankan apa yang disebutnya tatanan internasional berbasis aturan, ekonomi pasar bebas, dan akan mengawasi untuk memastikan bahwa China tidak merusaknya dan menggantikan tatanan dunia saat ini,” terangnya.

China telah menyuarakan konsep ‘impian China’ yang oleh sebagian orang di Barat ditafsirkan sebagai upaya Beijing untuk mendominasi dunia, tetapi Wang tidak melihatnya seperti itu.

Dia mengatakan orang Tionghoa perantauan akan sangat puas untuk merasa aman, merasa dihormati dan memiliki kepercayaan yang dipulihkan dalam budaya dan nilai-nilai Tiongkok dan bahwa Tiongkok berhak melestarikan tradisi masa lalu dan membuatnya lebih dihargai oleh orang lain.

“Saya akan membayangkan ‘impian China’ tidak lebih dari itu. Jika Anda dapat membuat dunia memandang China dengan hormat dan kekaguman, itu akan memuaskan ‘impian China,'” tutur Wang.

Tang Prize

Wang lahir di Surabaya di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) pada tahun 1930 dari orangtua terpelajar China, dan dididik di British Malaya dan London, menjadikan dia cendekiawan sinologi dan memenangkan penghargaan di bidang ini.

“Sejak akhir 1950-an, Wang Gungwu telah menerbitkan karya-karya perintis tentang sejarah kekaisaran China, China dan Asia Tenggara, dan perubahan identitas orang Tionghoa di Asia Tenggara,” menurut Tang Prize Foundation.

“Sebagai sejarawan terkemuka dalam hubungan China-Asia Tenggara, dia mengembangkan pendekatan unik untuk memahami China dengan meneliti hubungan panjang dan kompleksnya dengan tetangga selatannya,” kata yayasan itu.

Wang mengatakan kepada CNA bahwa dia merasa terhormat untuk menerima penghargaan tersebut, dan memuji pendiri Tang Prize, Samuel Yin, karena mengakui sinologi sebagai bidang yang penting dan landasan untuk mengambil pandangan yang lebih luas tentang ilmu ini.

Sinologi, atau studi tentang China, tidak hanya mencakup sastra, sejarah, dan filsafat, tapi juga aspek lain dari tradisi pemerintahan China, metode pemerintahan baru, keluarga jenis baru, masyarakat jenis baru, dan revolusi industri China, katanya.

“Mengingat itu, (sinologi) tidak bisa hanya terbatas pada apa yang ada di masa lalu dan menjadi milik museum. Anda ingin itu mencakup sesuatu yang hidup, dinamis, berubah. Anda memerlukan jenis (sinologi) yang berbeda.”

Tang Prize adalah penghargaan dua tahunan yang didirikan pada tahun 2012 oleh Yin, ketua Ruentex Group, untuk menghormati orang-orang yang telah memberikan kontribusi penting dalam empat kategori, yakni pembangunan berkelanjutan, ilmu biofarmasi, sinologi, dan supremasi hukum.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here