90 juta tahun lalu Kutub Selatan adalah hutan

90 juta tahun lalu Kutub Selatan adalah hutan
Ilustrasi hutan. (Photo by Sebastian Unrau on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa sekitar 90 juta tahun yang lalu hutan hujan berada di dekat Kutub Selatan Bumi.

Laporan dari Nature World News menyebutkan bahwa sebuah tim peneliti menemukan lapisan tanah hutan dari zaman Kapur atau Cretaceous (145-66 juta tahun lalu) yang berjarak 900 kilometer dari Antartika.

Mereka menganalisis akar, spora, dan serbuk sari pohon yang terawetkan dan  menyimpulkan bahwa Bumi jauh lebih hangat daripada yang diperkirakan para ilmuwan sebelumnya.

Lembaga Alfred Wegener Institute Helmholtz Center for Geoscientists Polar and Marine Research dari Jerman, bersama dengan para peneliti dari Imperial College London, menerbitkan hasil temua mereka dalam jurnal Nature.

Profesor Departemen Ilmu and Teknik Bumi di Imperial College London dan rekan penulis Tina van de Flierdt mengatakan bahwa hutan kuno yang terawetkan tersebut adalah kejadian yang luar biasa.

Hasil penelitian mereka menunjukkan tingkat karbon dioksida atmosfer yang lebih tinggi daripada apa yang sebelumnya diperkirakan terjadi pada masa Kapur, sekitar 115 hingga 80 juta tahun lalu.

Periode Cretaceous adalah puncak dinosaurus, serta kurun terpanas selama 140 juta tahun terakhir. Temperatur tropis mencapai 35 derajat Celsius, dan permukaan laut 170 meter lebih tinggi dari level saat ini.

Sebelumnya, para ilmuwan hanya tahu sedikit tentang kondisi lingkungan di bawah Lingkaran Antartika. Penemuan baru-baru ini menunjukkan keberadaan hutan hujan sedang yang ada di wilayah itu mirip dengan apa yang ditemukan di Selandia Baru saat ini.

Hutan-hutan tersebut terpelihara meskipun periode malam di kutub membentang selama empat bulan, atau sepertiga tahun ini, tanpa sinar matahari.

Keberadaan hutan itu menunjukkan bahwa suhu rata-rata sekitar 12 derajat Celsius, dan tutupan es tidak mungkin ada di Antartika. Buktinya berasal dari sedimen dasar laut dekat Gletser Thwaites dan Gletser Pulau Pine di Antartika Barat. Bagian dari inti sedimen memiliki warna yang aneh dan menarik perhatian para peneliti.

Bagian tersebut lalu dipindai dengan CT (komputer tomografi) yang memperlihatkan jaringan akar fosil yang sangat terperlihara sehingga struktur sel individu masih terlihat dan dapat diamati. Ada juga spora dan jejak serbuk sari dari tanaman purba, termasuk sisa-sisa tanaman berbunga pertama yang pernah terlihat di garis lintang tinggi.

Tim peneliti kemudian merekonstruksi kondisi lingkungan dengan menilai kondisi iklim keturunan moderen tanaman purba dan menganalisis curah hujan dan indikator suhu dari sampel.

Hasilnya menunjukkan bahwa suhu udara tahunan rata-rata 12 derajat Celsius, yaitu sekitar dua derajat lebih tinggi dari suhu rata-rata Jerman saat ini. Suhu musim panas rata-rata sekitar 19 derajat Celsius, dan suhu rawa dan sungai mencapai puncak 20 derajat Celsius.

Sementara itu, volume dan intensitas curah hujan Antartika Barat kira-kira sama dengan Wales saat ini.

Berdasarkan temuan-termua tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa vegetasi yang lebat menutupi benua Antartika 90 juta tahun yang lalu. Tidak ada lapisan es atau daratan es pada skala yang terjadi hari ini, dan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Penulis utama Johann Klages menyatakan bahwa sebelum penelitian, konsentrasi karbon dioksida atmosferik Cretacean di seluruh dunia hanya sekitar 1000 ppm. Dengan temuan saat ini, mereka menyimpulkan bahwa level 1.120 hingga 1.680 ppm pasti ada untuk menciptakan kondisi suhu seperti itu.

Temuan tersebut dikatakan memiliki implikasi besar bagi masa depan Bumi, dengan cara tingkat karbon dioksida atmosfer saat ini yang kian meningkat. Tren berbahaya ini harus dikurangi, kata para ahli.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here