52 smelter butuh lebih dari 4.700 MW

52 smelter butuh lebih dari 4.700 MW
Proses pencetakan lempengan tembaga di sebuah fasilitas smelter. (Britannica)

Jakarta (Indonesia Window) – Upaya untuk meningkatkan nilai tambah pada komoditas mineral telah mendorong pembangunan industri smelter (pemurnian logam) di dalam negeri.

Dalam lima tahun ke depan akan dibangun 52 industri smelter, yakni empat untuk memurnikan tembaga, besi, timbal dan seng, 29 untuk nikel, 9 untuk bauksit dan dua untuk mangan.

Kebutuhan listrik untuk 52 industri pemurnian logam tersebut diproyeksikan sebesar 4.798 megawatt (MW).

“Kita harus bisa memenuhi kebutuhan listrik untuk industri smelter pada tahun 2024 sebesar 4.798 Mega Watt,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif saat menyampaikan program kerja lima tahun di hadapan anggota DPR RI di Jakarta, Senin (27/1).

Infrastruktur listrik itu tersebar di beberapa daerah, antara lain Bengkulu (5 MW), Banten (68,5 MW), Jawa Barat (39 MW), Jawa Timur (821,9 MW), Nusa Tenggara Barat (300 MW), Nusa Tenggara Timur (20 MW), Kepulauan Riau (45 MW), Kalimantan Barat (499 MW), Kalimantan Selatan (10 MW), Sulawesi Tengah (959 MW), Sulawesi Tenggara (1.053 MW), serta Maluku dan Maluku Utara (941 MW).

Guna memenuhi kebutuhan listrik untuk smelter, Kementerian ESDM menyiapkan sejumlah strategi agar industri smelter di Indonesia semakin kompetitif, yakni pemenuhan listrik oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN), pemenuhan listrik oleh pengembang smelter serta kolaborasi antara pengembang smelter dengan non-PLN.

Listrik

Data dari Kementerian ESDM menunjukkan bahwa hingga 2019 sudah ada 17 smelter yang dibangun.

Pada 2020 diharapkan 21 smelter akan menyusul, kemudian pada 2021 sebanyak 48 smelter, tahun 2022 sebanyak 50 smelter, dan akan terus meningkat hingga 52 smelter pada 2023.

Dengan demikian hingga 2023 diharapkan 35 smelter sudah harus dibangun untuk mencapai target pembangun.

Berkaitan dengan kebutuhan listrik, di Jawa ada 12 smelter yang memerlukan 929,4 MW.

Sementara itu, dua smelter di Sumatera membutuhkan listrik sebesar 50 MW, 11 pemurnian logam di Kalimantan membutuhkan listrik 579,5 MW, dan 16 smelter di Sulawesi membutuhkan listrik 2.012 MW (2 GW).

Sedangkan satu fasilitas pemurnian logam di Nusa Tenggara Timur membutuhkan listrik 20 MW.

Di Nusa Tenggara Barat ada satu smelter yang membutuhkan listrik 300 MW, dan di Maluku ada sembilan smleter yang memerlukan listrik 941 MW.

Pembangunan

Menurut Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral pada Kementerian ESDM, Yunus Saefulhak, ada lima fasilitas pemurnian logam yang dibangun pada 2020.

Dia menerangkan, lima smelter tersebut terdiri atas dua fasilitas untuk pemurnian nikel, satu untuk timbal, satu untuk mangan, dan satu lagi untuk nikel.

Lima smelter yang akan dibangun tersebut adalah proyek smelter nikel PT Antam Tbk di Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara dengan kapasitas input 1,21 juta ton dan kapasitas produksi 64,65 ribu ton feronikel (FeNi) per tahun.

Proyek pembangunan kedua adalah smelter nikel PT. Arthabumi Sentra Industri di Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah dengan kapasitas input mencapai 720.000 ton dan kapasitas produksi 72,96 ribu ton Nikel Pig Iron (NPI) per tahun.

Berikutnya adalah proyek pembangunan smelter timbal PT Kapuas Prima Coal di Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah dengan kapasitas input mencapai 36.000 ton dan produksi sebesar 22,92 ribu ton timbal bullion per tahun.

Sementara itu, proyek pembangunan smelter mangan PT Putra Indonesia Jaya berlokasi di Kupang, Nusa Tenggara Timur dengan kapasitas input 103,16 ribu ton dan kapasitas produksi 40,37 ribu ton Ferro mangan per tahun.

Sedangkan proyek smelter nikel PT Elit Kharisma Utama yang berada di Cikande, Provinsi Banten memiliki kapasitas input untuk dua line sebesar 1,2 juta ton dan total kapasitas produksi dua line sebesar 97,45 ribu ton Nikel Pig Iron (NPI) ton per tahun.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here